Rabu, 20 Juni 2012

teori strukturalisme


Nouvelle Critique Atau Teori Strukturalisme
Pembahasan atau diskusi sastra di Perancis pada tahun ’60-an dikuasai oleh aliran Nouvelle Critique. Kaum kritikus baru ini berlainan dengan kaum New Criticism dan Merlyn. Mereka tidak yakin bahwa sebuah karya sastra dapat ditafsirkan secara tuntas dan arti yang sesungguhnya dapat diungkapkan. Para penganut Neuvelle Critique biarpun bernada keras dalam mengajukan pertanyaan yang kritis tentang isinya, selalu ingin menunjukkan struktur-struktur. Dalam sebuah struktur tampak tata susunan serta keterikatan intern.Bagian-bagian atau unsur-unsur baru mendapat arti kalau dipandang dari keseluruhan dan keseluruhan baru bisa dipahami kalau bagian-bagian atau unsur-unsurnya diperhatikan. Misalnya, bila membaca sebuah teks, maka kita menafsirkan bagian-bagiannya secara local dan sementara. Suatu pengertian yang lebih lengkap baru terjadi apabila kita menafsirkannya dalam lingkaran-lingkaran konteks yang lebih luas. Ucapan seorang tokoh dalam sebuah tragedi, misalnya, hendaknya ditempatkan dulu dalam konteks adegan, sesudah itu baru dalam konteks seluruh tragedy; tragedi tertentu kemudian kita tempatkan dalam konteks semua tragedy yang ditulis pengarang yang bersangkutan dan akhirnyadalam visi kemanusiaan yang terus-menerus berkembang.
Nouvelle Critique menanamkian dirinya struturalistik. Yang dimaksud struktur dalam karya tertentu oleh kaum kritikus tersebut ialah penjabaran konkret mengenai konsep struktur yang pada umumnya bersangkutan dengan kaitan-kaitan tetap antara kelompok-kelompok gtejala. (Menurut Barthes, kritik menciptakan arti-arti itu dihasilkan).
Struktur sebuah teks yang terpampang di atas kertas baru7 menjadi jelas dan dapatdirasakan oleh pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kritikus. Membaca teks yang sama tetapi dengan cara yang berbeda, akan memperhatikan struktur yang berbeda juga. Teksyang sama dapat didekati oleh ahlui-ahli dari disiplin ilmu yang berlainan. Miasalnya, sebuah teks dari Racine (pengarang tragedi perancis dari abad ke-17) didekatioleh Carles Mauron (seorang ahli jiwa). Hasilnya,ia menemukan keterikatan garis perkembangan tragedi dalam pengelompokan tokoh berdasarkan kriteria agresivitas (nafsu yang menyerang). Menurutnya, ada dua rangkaian tokoh:  (1) yang memburu dan (2) yang diburu.
Menarik pula pelacakan Mauron yang mencari metafora yang mempersamakan tokoh-tokohnya di dalam karya sebagian pengarang yang sama dan mencatat kata-kata apa yang paling sering muncul kembali. Tanpa memperhatikan arti kata-kata itu menurut konteksnya, ia hanya mencatat kemiripan dan kebertautannya. Kata-kata itu kemudian dikelompokkan dan akhirnya tersusunlah satu jaringan arti, yaitu jarinagn konsep atau ide yang dapat dihubungkan dengan kata-kata tersebut. Berdasarkan jarinagn-jarinagn tersebut, menjadi jelas ‘metafora pesona’ mana yang merupakan cirri khas bagi karya seorang pengarang tertentu atau apayang menarik perhatian pribadi. Dalam karya Mallarme, misalnya, ia menemukan jaringan kematian, keagungan, kejayaan, dan humor yang rupanya memesona pengarang dan secara metaforik lalu muncul dalam karyanya.
Menurut Lucien Goldmann, seorang Marxis, arti pokok dalam karya Racine harus didekati secara sosiologis, yaitu dari situasi religious dalam hubungan sosialekonomis.
Roland Barthes, tokoh utama Neuvelle Critique, dalam pendekatannya menekankan tiga kaitan: (1) kekuasaan, (2) persaingan,dan (3) cinta. Selanjutnya ia membedakan karya yang dapat dibaca (lisible) dan yang dapat ditulis (scriptible). Karya yang dapat dibgaca, miswalnya novel realistic, dibaca secara horizontal dari awal sampai akhir dalam sekejap karena pembaca ingin tahu akhir cerita dan pemecahan masalahnya,karya yang dapat ditulis secara vertikal memaksa kita menulisnya kembali; karena tidak jelas, teks kita analisis kata demi kata, kalimat demi kalimat,sehingga kita menghasilkan arti-arti baru – dengan menulis teks baru, karena teks pertama tidak dapat kita artikan secara langsung.
Dalam karangannya yang paling popular, S/Z, Barthes membongkar sebuah teks, yaitu novel Balzac yang berjudul sarrasine, yang dipecahnya menjadi 561 kesatuan (lexies).
Selanjutnya setiap kesatuan dianalisisnya menurut berbagai kemungkinan untuk mengartikannya dan memperlihatkan bagaimana sebuah teks realistik pun mengandung konotasi simbolik dan sebagainya. Dengan membaca dan menganalisis teks secara vertikal, ia menulis teks itu kembali dan menjadikannya sebuah teks baru.
Dalam hal ini, ia mempunyai titik pertemuan dengan kaum postruturalis di Amerika.
Namun, ada yang melancarkan kecaman terhadap analisis kelompok Novelle Critique ini. Deskripsi mereka mengenai proses interprestasi serta cara bagian dan keseluruhan saling menentukan sebetulnya berbau filsafatdan tidak begitu saja dapat dibuktikan. Kegemaran mereka bagi “teks-teks yang dapat ditulis” mengakibatkan kita tidak lagi secara polos dapat menilai sebuah teks realiistik.
Meskipun demikian, Nouvelle Critique berjasa sekali karena mereka.”menelanjangi” subjektivitas seorang kritikus; suatu penafsiran juga tergantung pada pertanyaan yang diajukan mengenai teks yang bersangkutan.
Sebagai perkembangan dari Nouvelle Critique ini, di Perancis ada pula pendekatan lain yang penting, yang datangnya dari kaum naratologi. Para naratologi ini mengembangkan sebuah teori dari studi mereka tentang system naratif dalam karya sastra. Tokoh-tokohnya antara lain ialah A.J.Greimas,J.Bremond, TzvetanTodorov,dan Gerard Genette yang sangat dipengaruhi oleh studi VladimirPropp.
Prop adalah peneliti sastra Rusia yang pada tahun 1928 menerbitkan sebuah buku mengenai struktur dongeng Rusia, yaitu morphologi of the folk tale, yang menganalis segi srtuktur naratif dongeng- dongeng itu. Prop mengintisarikan semua cerita rakyat ke dalam tujuh speres of action’ lingkarean tindkan’ dan 31 unsur tetap atau yang disebut fungsi naratif. Antara lain simpulanya ialah bahwa yang penting dalam dongeng bukanya toko, melainkan fungsi tokoh dlam naratifnya.
Fungsi naratif adalah kesatuan dasar dari bahasa naratif yang menunjukan atau merujuk pada action ‘lakuan, yang mendasari narat6if dari fungsi-fungsi itu cenderung mengikuti sekuaen, yaitu kesinambungan peristiwa yang logis. Greimas dalam bujunya Semantique Structurale(1966) lebih jauh menjabarkan skemanya dan menuju pada semacam tata bahasa naratif yang universal dengan mencoba suatu analisis semantis struktur kalimatnya. Alih-alih sphere of action ‘lingkaran tindakan’ ia mengusulkan actant, suatu kesatuan structural yang bahkan buakn tokoh ataupun naratif. Ia mengajukan tiga pasang oposisi biner yang melibatkan enam actant atau peran           
       Subject ‘subjek’/object/ ‘objek’
                                             Sender ‘ pengirim’/receiver/ ‘penerima’
                                             Helper ‘penolong’/opponent/ ‘penentang’
Selanjutnya greimas menyatakan bahwa oposisi biner ini menggambarkan tiga pola dasar yang dapat ditemukan dalam satu naratif yaitu:
1.      Keinginan, pencarian, atau sasaran (subjek/objek)
2.      Komunikasi(pengirim/penerima)
3.      Tambahan dukungan atau halangan(penolong/penentang)

System tersebut diterapkanya pada berbagai naratif.(cf.Selden, 1986,Cuddon,1991)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar